Introvert Bercerita

  • Beranda
Semakin singkat waktuku bersamamu
Tak terasa kebersamaan kita sudah hampir di ujung
Belum usai kumelepas rindu bersamamu
Masih ingin kumengawali pagi bersama sejuk subuhmu
Bercengkrama dengan malam-malam indahmu
Namun kehadiranmu akan segera berlalu
Hanya tinggal menghitung hari kita akan berpisah
Secepat itukah kau akan pergi?
Tak inginkah engkau berlama-lama denganku?
Aku masih rindu
Akankah kita bertemu kembali?





#a
#29harimenuliscinta
"Aku capek. Kenapa tanggung jawab itu harus dibebankan kepadaku semua?" keluhnya sore itu padaku.
"Bukankah masih ada orang lain yang juga punya tanggung jawab yang sama denganku? Tapi mengapa selalu aku yang terbebani? Mengapa mereka bisa lepas dari beban ini?" sambungnya.

"Itu pilihanmu, bukan? Lalu mengapa sekarang kau menyesalinya? Mengapa sekarang kau merasa terbebani dengan pilihanmu sendiri?" aku balik bertanya padanya. Dia hanya diam.
"Bukankah dulu kamu mempunyai waktu untuk memikirkan pilihan itu? Tapi mengapa tidak kau gunakan? Mengapa pada akhirnya kamu merasa salah mengambil pilihan?" lanjutku.

"Aku tidak tau akan begini jadinya."
"Semua orang tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi di hari esok." celetukku.
"Ya, aku tau. Maksudku, aku tidak pernah terbayang akan jadi seperti ini."
"Seharusnya ketika kamu mengambil suatu keputusan ya kamu harus siap dengan segala resikonya. Termasuk yang sedang kamu alami sekarang. Kamu mungkin merasa paling terbebani dari yang lainnya. Tapi apakah yang selama ini kamu lakukan sudah melebihi dari yang mereka lakukan selama ini? Sudahkah kamu lebih baik dalam menjalankan tugas ini? Lihatlah lagi dirimu."
"Baiklah."
"Oh ya, kemudian jika kamu merasa tidak adil dengan mereka yang tidak terbebani berarti kamu senang menjadi orang yang tidak bertanggung jawab? Orang yang melalaikan tugasnya, begitu?"

Diam pun menjadi ujung dari percakapan sore itu.





#a
#tulisan.kesepuluh
#29harimenuliscinta
"Kenapa mereka membiarkanku sendirian?" tanya gadis kecil itu. Di sudut taman ia duduk sambil memandangi segerombolan anak perempuan seusianya yang sedang asyik bermain.
"Apakah mereka sudah melupakanku setelah cukup lama tak bersua?" lanjutnya.
Gadis itu hanya termenung di sudut taman. Melihat kawan-kawannya yang tengah tertawa bahagia tanpa ia. Bermain, bercanda, bercerita lepas dan tak mempedulikan gadis kecil itu.

"Yang sudah tak sama biasanya memang terlupakan. Yang tidak mau mengikuti memang tidak akan dipedulikan." ucap seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelah si gadis kecil.
"Tak sadarkah kamu bahwa sekarang dirimu sudah berbeda dengan mereka? Kamu sudah lebih baik dari mereka. Kamu sudah lebih maju dari mereka. Mereka yang masih sama seperti dulu tidak bisa menerimamu lagi." lanjut orang itu.

"Tapi aku ingin bersama mereka lagi, seperti dulu."
"Untuk apa kamu kembali kepada mereka yang tidak baik untukmu? Mereka yang sombong kepadamu. Mereka hanya bisa memberikan pengaruh buruk bagimu. Memangnya dulu ketika kamu masih bersama mereka, kamu selalu dipedulikan? Tidak juga kan? Kamu hanya "pelengkap" saja kan? Dan kamu juga tidak berpengaruh besar untuk mereka."

Gadis itu terdiam. Menyadari ucapan orang itu semuanya benar.
"Hmm.. Kamu benar. Bahkan sekarang untuk sekedar menyapaku pun mereka enggan." mata gadis itu berkaca-kaca.
"Sudahlah. Masih banyak di luar sana teman yang mau menerimamu tanpa pamrih. Tanpa kamu harus memiliki kesamaan dengan mereka."




#a
#tulisan.kedelapan
#29harimenuliscinta
Hadirku disini bukanlah sebuah hal penting
Adanya aku disini bukanlah yang utama
Sosokku disini bukanlah sesuatu yang berarti
Aku bukan yang dicari ketika mereka butuh
Aku bukan, bukan siapa-siapa
Aku, hanya pelengkap
Hanya bagian kecil dari gerombolan itu
Yang perannya dapat digantian oleh siapapun, kapanpun
Aku,
Yang terlanjur menyandang status 'bagian dari mereka'
Sayang kalau tidak disertakan





#a
#tulisan.ketujuh
#29harimenuliscinta

Teruntuk dua orang di tempat yang berbeda, kukirimkan kepingan-kepingan rindu ini untuk kalian. Semoga kalian juga merasakannya dan memiliki keinginan yang sama denganku. Agar rinduku tidak menjadi rindu yang betepuk sebelah tangan.

Wahai dua orang yang kurindu, ingatkah kalian, kita dulu pernah bersama, kawan. Tidak hanya satu atau dua hari saja. Tapi berbulan-bulan. Bulan yang cukup banyak, meski belum mencapai tahun. Namun, di antara berbulan-bulan itu, kita sudah mengukir jutaan kenangan yang kini kurindukan. Hampir setiap hari kita berhasil menciptakan kejadian-kejadian kecil yang lantas terekam di dalam memori otakku, sampai saat ini.

Hingga pada suatu ketika kita tidak lagi bisa menciptakan kejadian-kejadian itu. Semenjak sebuah jarak yang sebenarnya hanya kecil ada dan kata "jauh" ada di antara kita. Semenjak sosok-sosok menyebalkan itu merusak semua tentang kita. Semenjak aku berhasil direbut oleh orang lain darimu dan kau pun juga direbut oleh orang yang lain lagi. Kita pun menghilang bersama-sama. Bahkan tanpa ada sepenggal kata pamitpun.

Lantas rindu pun menyerbu hatiku. Sudah lama sebenarnya, tapi hanya kupendam saja. Ingin rasanya aku mengungkap rindu ini kepada kalian. Namun entah mengapa lidahku kelu. Tak ada sepatah kata pun yang mampu kuucap.

Aku ingin bertanya, apakah kalian juga merasakan rindu ini? Atau hanya aku saja kah yang diserbu jutaan rindu ini? Dan mungkin bila kita dipertemukan lagi, apakah kita masih bisa menjadi kita yang dulu? Kuharap iya.





#a
#tulisan.keenam
#29harimenuliscinta
Selepas sholat subuh pada hari ke dua puasa yang lalu aku duduk bersila di atas ranjang. Sebelumnya aku berencana untuk tidur lagi setelah sholat subuh. Karena selepas sahur kantuk sempat menyerangku dengan hebatnya. Namun, keadaan telah berubah. Kantuk pun menghilang entah kemana. Benar-benar lenyap, tak meninggalkan jejaknya, sedikitpun. Kini, aku justru tengah berpikir keras. Esok aku sudah masuk sekolah kembali setelah 4 hari libur awal puasa. Banyak hal menyerbu otakku. Mereka berebut ingin ku pikirkan. Aku pun kesal.

"Arrghh.. Kenapa sih kalian selalu saja datang?"
"Tak bisakah kalian sejenak saja pergi?"
"Aku capek. Kenapa harus selalu aku yang kalian serbu? Kenapa bukan mereka, yang juga punya kewajiban sama untuk memikirkan kalian? Kenapaaa??" Keluhku.

Aku jadi teringat sebuah "wish" dalam novel Refrain karya Winna Efendi. Wish dari Nata yang berbunyi: " Menjadi anak-anak lagi, yang tak pernah memusingkan banyak hal rumit."

Sekarang aku pun memiliki harapan yang sama. Meski aku tau harapan itu tak akan pernah terjadi. Tapi, sungguh,  rasanya aku ingin kembali menjadi anak kecil lagi. Yang punya banyak waktu bermain. Yang bisa tertawa lepas. Yang otaknya masih belum dipenuh banyak hal yang meminta untuk dipikirkan. Yeah, sepertinya menyenangkan jika itu terjadi. Tapi sayangnya itu tak akan pernah terjadi. Sedikit sesal pernah hinggap, ketika masih kecil aku ingin cepat-cepat menjadi dewasa. Sekarang, setelah apa yang kuinginkan dulu telah tercapai, aku malah mengeluh. Mengeluhkan betapa beratnya menjadi dewasa. Hmmm... Dan kini aku malah menginginkan yang sebaliknya.

Memang, manusia itu ahlinya mengeluh. Apa-apa selalu di keluhkan. Contoh simpelnya saja,  ketika hujan kita mengeluh, nggak bisa kemana-mana. Ketika panas pun juga, mengeluh keringetan, kepanasan, haus. Iya kaaan? Maumu tu apasih? Hehe..

Lantas, jika terus mengeluh, kapan akan bersyukur?







#a
#tulisan.pertama
#29harimenuliscinta

Ketika semua bertahan dengan ego masing-masing, maka tak akan ada penyelesaian di antara masalah mereka. Satu-satunya hanya dengan membunuh ego salah satu. Lalu siapa yang akan membunuh egonya? Dulu aku sudah pernah. Kemarin aku melakukannya lagi. Sekarang, haruskah aku, lagi? Mengapa bukan engkau saja?  Kenapa harus terus-terusan aku? Apa kau tak mengerti? Nanti egoku habis karena ku bunuh satu-satu.  Dan egomu? Akankah selalu menang? Akankah selalu beranak pinak melahirkan ego yang lain? Sudahlah, terlalu banyak pertanyaanku. Simpan saja tanda tanya itu. Tidak akan terjawab. Tidak penting.
Langganan: Komentar ( Atom )

ABOUT AUTHOR

LATEST POSTS

  • Tujuh Makhluk Penghuni 312
    Haii guys!!! Haaaahhhh… Nggak kerasa satu semester udah aku lewati di Teladan, sekolah baruku tercintaaahh :* Bahkan kini aku sudah be...
  • 7 Januari 2015
    7 Januari 2015 Aku di sini termenung. Merenungin suatu kecepatan sebuah kehidupan. Ya, cepat. Sebuah kata yang kuanggap paling tepat unt...
  • GLEN FREDLY - JANUARI
    Berat bebanku Meninggalkanmu Separuh nafas jiwaku Sirna... Bukan salahmu Apa dayaku Mungkin benar cinta sejati Tak berpihak Pa...
  • Menengok Kembali
    "Aku capek. Kenapa tanggung jawab itu harus dibebankan kepadaku semua?" keluhnya sore itu padaku. "Bukankah masih ada orang...
  • Tak Lagi Sama
    "Kenapa mereka membiarkanku sendirian?" tanya gadis kecil itu. Di sudut taman ia duduk sambil memandangi segerombolan anak peremp...
  • Rindu.
    Teruntuk dua orang di tempat yang berbeda, kukirimkan kepingan-kepingan rindu ini untuk kalian. Semoga kalian juga merasakannya dan memilik...
  • Alasan yang Terlupa
    Langit menjingga pertanda senja Saat itu, Kita berada   di tempat yang sama Di sebuah tapak yang semakin meninggi Perantara un...
  • Membunuh Ego
    Ketika semua bertahan dengan ego masing-masing, maka tak akan ada penyelesaian di antara masalah mereka. Satu-satunya hanya dengan membunuh...
  • Aku Ingin Sebuah Jawaban
    Aku menemukan foto itu saat menscroll down beranda igku. Ku perhatikan wajah bahagia mereka. Tampak sangat bahagia layaknya hidup mereka...
  • Cerita Tentang Hati yang Berantakan
    Nggak seharusnya dulu aku menghilang gitu aja dari kamu. Seharusnya dulu aku lebih sabar untuk menunggu saat indah itu. Daripada menghilang...

Blogger templates

Categories

  • akuuuu
  • puisi

Instagram

aarestii.tumblr.com twitter.com/aarestii

Blog Archive

  • ▼  2016 (8)
    • ▼  Juni (6)
      • Akankah Bertemu Lagi?
      • Menengok Kembali
      • Tak Lagi Sama
      • Bukan Siapa-Siapa
      • Rindu.
      • Kapan Bersyukur?
    • ►  Februari (2)
  • ►  2015 (10)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (18)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2013 (1)
    • ►  September (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Introvert Bercerita

Hello!

Unknown
Lihat profil lengkapku

Popular Posts

  • Tujuh Makhluk Penghuni 312
    Haii guys!!! Haaaahhhh… Nggak kerasa satu semester udah aku lewati di Teladan, sekolah baruku tercintaaahh :* Bahkan kini aku sudah be...
  • 7 Januari 2015
    7 Januari 2015 Aku di sini termenung. Merenungin suatu kecepatan sebuah kehidupan. Ya, cepat. Sebuah kata yang kuanggap paling tepat unt...
  • GLEN FREDLY - JANUARI
    Berat bebanku Meninggalkanmu Separuh nafas jiwaku Sirna... Bukan salahmu Apa dayaku Mungkin benar cinta sejati Tak berpihak Pa...
  • Menengok Kembali
    "Aku capek. Kenapa tanggung jawab itu harus dibebankan kepadaku semua?" keluhnya sore itu padaku. "Bukankah masih ada orang...
  • Tak Lagi Sama
    "Kenapa mereka membiarkanku sendirian?" tanya gadis kecil itu. Di sudut taman ia duduk sambil memandangi segerombolan anak peremp...
  • Rindu.
    Teruntuk dua orang di tempat yang berbeda, kukirimkan kepingan-kepingan rindu ini untuk kalian. Semoga kalian juga merasakannya dan memilik...
  • Alasan yang Terlupa
    Langit menjingga pertanda senja Saat itu, Kita berada   di tempat yang sama Di sebuah tapak yang semakin meninggi Perantara un...
  • Membunuh Ego
    Ketika semua bertahan dengan ego masing-masing, maka tak akan ada penyelesaian di antara masalah mereka. Satu-satunya hanya dengan membunuh...
  • Aku Ingin Sebuah Jawaban
    Aku menemukan foto itu saat menscroll down beranda igku. Ku perhatikan wajah bahagia mereka. Tampak sangat bahagia layaknya hidup mereka...
  • Cerita Tentang Hati yang Berantakan
    Nggak seharusnya dulu aku menghilang gitu aja dari kamu. Seharusnya dulu aku lebih sabar untuk menunggu saat indah itu. Daripada menghilang...

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

  • My Story
  • Gallery
  • Archive
  • Blog
  • About
  • Contact

Label Cloud

  • akuuuu
  • puisi
  • Beranda

Latest Posts

  • Tujuh Makhluk Penghuni 312
    Haii guys!!! Haaaahhhh… Nggak kerasa satu semester udah aku lewati di Teladan, sekolah baruku tercintaaahh :* Bahkan kini aku sudah be...
  • 7 Januari 2015
    7 Januari 2015 Aku di sini termenung. Merenungin suatu kecepatan sebuah kehidupan. Ya, cepat. Sebuah kata yang kuanggap paling tepat unt...
  • GLEN FREDLY - JANUARI
    Berat bebanku Meninggalkanmu Separuh nafas jiwaku Sirna... Bukan salahmu Apa dayaku Mungkin benar cinta sejati Tak berpihak Pa...
  • Menengok Kembali
    "Aku capek. Kenapa tanggung jawab itu harus dibebankan kepadaku semua?" keluhnya sore itu padaku. "Bukankah masih ada orang...
  • Tak Lagi Sama
    "Kenapa mereka membiarkanku sendirian?" tanya gadis kecil itu. Di sudut taman ia duduk sambil memandangi segerombolan anak peremp...
  • Rindu.
    Teruntuk dua orang di tempat yang berbeda, kukirimkan kepingan-kepingan rindu ini untuk kalian. Semoga kalian juga merasakannya dan memilik...
  • Alasan yang Terlupa
    Langit menjingga pertanda senja Saat itu, Kita berada   di tempat yang sama Di sebuah tapak yang semakin meninggi Perantara un...
  • Membunuh Ego
    Ketika semua bertahan dengan ego masing-masing, maka tak akan ada penyelesaian di antara masalah mereka. Satu-satunya hanya dengan membunuh...
  • Aku Ingin Sebuah Jawaban
    Aku menemukan foto itu saat menscroll down beranda igku. Ku perhatikan wajah bahagia mereka. Tampak sangat bahagia layaknya hidup mereka...
  • Cerita Tentang Hati yang Berantakan
    Nggak seharusnya dulu aku menghilang gitu aja dari kamu. Seharusnya dulu aku lebih sabar untuk menunggu saat indah itu. Daripada menghilang...

Blogroll

Flickr

About

Copyright 2014 Introvert Bercerita.
Designed by OddThemes