Menengok Kembali

"Aku capek. Kenapa tanggung jawab itu harus dibebankan kepadaku semua?" keluhnya sore itu padaku.
"Bukankah masih ada orang lain yang juga punya tanggung jawab yang sama denganku? Tapi mengapa selalu aku yang terbebani? Mengapa mereka bisa lepas dari beban ini?" sambungnya.

"Itu pilihanmu, bukan? Lalu mengapa sekarang kau menyesalinya? Mengapa sekarang kau merasa terbebani dengan pilihanmu sendiri?" aku balik bertanya padanya. Dia hanya diam.
"Bukankah dulu kamu mempunyai waktu untuk memikirkan pilihan itu? Tapi mengapa tidak kau gunakan? Mengapa pada akhirnya kamu merasa salah mengambil pilihan?" lanjutku.

"Aku tidak tau akan begini jadinya."
"Semua orang tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi di hari esok." celetukku.
"Ya, aku tau. Maksudku, aku tidak pernah terbayang akan jadi seperti ini."
"Seharusnya ketika kamu mengambil suatu keputusan ya kamu harus siap dengan segala resikonya. Termasuk yang sedang kamu alami sekarang. Kamu mungkin merasa paling terbebani dari yang lainnya. Tapi apakah yang selama ini kamu lakukan sudah melebihi dari yang mereka lakukan selama ini? Sudahkah kamu lebih baik dalam menjalankan tugas ini? Lihatlah lagi dirimu."
"Baiklah."
"Oh ya, kemudian jika kamu merasa tidak adil dengan mereka yang tidak terbebani berarti kamu senang menjadi orang yang tidak bertanggung jawab? Orang yang melalaikan tugasnya, begitu?"

Diam pun menjadi ujung dari percakapan sore itu.





#a
#tulisan.kesepuluh
#29harimenuliscinta

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

0 komentar:

Posting Komentar