Hei blogger! Aku pernah dapet tugas Bahasa Indonesia, yaitu disuruh menulis ulang sebuah cerpen versi kita. Nah aku mengambil cerpen yg berjudul Bintang Jatuh karya Anand Buchori. Penasaran? Mau baca cerpen Bintang Jatuh versiku? Okey, cekidot! ^^
Bintang Jatuh
"Mungkin belum saatnya Nya. Aku yakin cerpenmu pasti dimuat, tapi bukan sekarang." hibur Angie.
"Hmmm.. Iya Ngie. Tapi aku berharap banget cerpenku bisa dimuat. Tadi aku cepet - cepet beli majalah ini karna aku punya firasat kalau cerpenku bakalan dimuat. Eh ternyataaaaa..." ucap Vanya seraya memasukkan majalahnya ke dalam tas.
"Sabar Nya. Aku yakin banget cerpen kamu pasti dimuat. Ya mungkin sekarang baru ngantre buat dimuat. Dan kalau saatnya tiba, kamu pasti bangga cerpenmu ada dimajalah itu. Kamu pernah bilang kalau hal seperti ini adalah hal biasa bagi penulis pemula. Kamu harus tetap semangat Nya." Angie kembali melontarkan kalimat - kalimatnya untuk menghibur Vanya.
"Tapi sulit ngejalaninnya Ngie." keluh Vanya
"Ya udah, gimana kalau sekarang kamu aku traktir es krim. Ya paling enggak bisa ngilangin sedikit kekecewaan kamu. Yuk!"
Vanya pun nyengir dan mengikuti ajakan Angie.
Persahabatan Vanya dan Angie dimulai sejak SMP ketika mereka sama - sama menjadi korban MOS. Saat itu mereka diwajibkan membawa onde - onde dengan jumlah wijen 133 buah, namun ternyata biji wijen mereka kurang. Mereka pun dihukum. Dan sejak saat itu mereka sering curhat dan akhirnya bersahabat.
Kedua sahabat ini mempunyai hobi yang berbeda. Vanya suka membuat puisi dan cerpen, sedangkan Angie senang menggambar baju dan membuat aksesori. Angie bercita - cita menjadi desainer dan punya butik.
"Ngie, bulan purnama kapan ya? Aku mau berburu bintang jatuh nih. Kamu mau kan nemenin aku?" pinta Vanya sambil menjilat es krimnya. Sudah kesekian kalinya Vanya bicara seperti itu pada Angie.
"Nya . . . Kamu nggak usah percaya sama kayak gituan. Itu mitos Nya!"
"Kamu nggak mau nemenin? Ya udah nggak papa, tapi nggak usah sewot juga dong." Vanya ngambek.
"Aku nggak sewot Nya!" Angie mengelak.
"Ya udah, mau nggak? Tenang deh, kali ini aku udah nyiapin cemilan buat temen berburu bintang jatuh. Ada brownis, kastengel, kue salju....."
"Yaudah, mau mau mau." seketika Angie langsung menyaut.
***
Saatnya berburu bintang jatuh pun tiba. Kira - kira pukul 10 malam, Vanya dan
Angie duduk di atas atap rumah Vanya. Pandangan mereka lurus menatap langit."Ngie, kalau lagi kayak gini aku jadi inget film "A Walk to Remember" " ucap Vanya.
"He'em. Filmya romantis, pemainnya pun keren. Eh Nya, liat ituuu . . . . ." tunjuk Angie pada suatu titik.Tampak seberkas sinar yang terang benderang berkelebat di langit.
"Van... Itu kan kembang api." ucap Angie sambil terbahak - bahak melihat Vanya yang hampir saja mengucapkan permintaannya. Melihat itu, Vanya pun membentak Angie.
"Puas kamu!"
Seketika tawa Angie pun terhenti. Suasama tampak hening. Namun hanya sesaat sebelum sebuah kalimat pendek keluar dari mulut Angie.
"Nya, harus berapa kali sih aku bilang. Bintang jatuh itu cuma mitos. Kamu jangan bergantung pada bintang jatuh. Bintang jatuh juga cuma fenomena alam, bukan penentu nasib."
"Angie, kamu udah berkali-kali bilang gitu. Sekarang gini deh, kalau kamu nggak mau nemenin aku juga nggak papa, aku nggak maksa."
"Kok kamu gitu Nya? Oke, kalau gitu aku pulang. Tapi aku nggak suka ya kalau kamu bergantung sama bintang jatuh." Angie pun menuruni tangga dan meninggalkan Vanya sendirian di atas. Ini adalah pertengkaran pertama Angie dengan Vanya.
Keesokan harinya, Vanya dan Angie tidak saling menyapa. Pertengkaran mereka semalam terbawa hingga ke sekolah. Sungguh tak disangka, hal kecil itu bisa membuat Vanya dan Angie bermusuhan seperti ini. Vanya merasa sepi tanpa Angie, karena Vanya bukan tipe orang yang mudah mendapatkan teman baru. Berbeda dengan Angie yang dengan mudah mendapatkan teman baru. Ketika istirahat, Vanya melihat Angie ngobrol dengan beberapa anak. Vanya melamun melihat hal itu. Namun tiba - tiba dari belakang, Sekar teman satu kelas Vanya menegurnya.
"Nya! Kok ngelamun? Kamu nggak ke kantin?" tanya Sekar
"Enggak." jawab Vanya singkat. Kemudian Sekar meminta pendapat Vanya tentang sebuah baju di sebuah majalah.
"Bagus. Tapi kayaknya terlalu terbuka deh. Gimana kalau yang ini?" Vanya menunjuk salah satu baju. Vanya pun membalik halaman demi halaman. Dan ia menemukan sebuah artikel yang membuat dadanya bergetar.
***
tok.. tok.. tok..
"Masuk!" teriak Angie dari dalam.
"Ngie..." sapa Vanya lirih. Angie menoleh dan terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Ngie, aku mau minta maaf. Selama permusuhan kita, aku merasa kesepian." Vanya melanjutkan kata-katanya. Kata - kata Vanya sangat mengejutkan Angie.
"Nyaaa... Aku juga minta maaf ya. Nggak seharusnya aku kemarin kayak gitu." Vanya juga terkejut dengan kata - kata Angie. Tanpa lama - lama lagi mereka saling tertawa, berpelukan dan menangis bersama. Persahabatan mereka telah kembali.
"Nyaa.. Setelah kejadian itu aku ngerasa nggak enak sama kamu. Kamu tau nggak, kemarin aku di sini megangin kamera dan berharap ada bintang jatuh yang bisa aku potret dan aku persembahkan buat kamu."
"Ngiee... So sweet banget. Makasih Ngie.. Kamu emang sahabatku."
Suasana haru menyelimuti mereka.
"Oya Ngie, aku udah nemuin bintang jatuhku. Di sini !" ucap Vanya sambil menunjuk sebuah majalah.
"Maksud kamu?" Angie tidak memahami maksud Vanya.
"Di sini, ada artikel bagaimana membtat novel secara indie. Dan aku rasa ini adalah bintang jatuhku. Aku akan mengikuti langkah di artikel ini. Kamu mau kan bantuin aku? Kita bakalan mencetak, kemudian memperbanyak dan akhirnya kita pasarkan ke teman - teman. Ini juga sekalian uji coba, novel yang kita terbitkan sendiri bisa diterima pasar atau enggak."
"Oke, aku setuju. Aku bakalan bantuin kamu Nya."
"Siiip.. Kamu yang ngasih illustrasinya dan memasarkannya ya."
"Siap! Eh tapi bukannya ini ngejiplak caranya Rahmania Arunita waktu nerbitin novel pertamanya "Eifell I'm in Love" ? "
"Meniru yang baik nggak ada salahnya Ngie." ucap Vanya dengan gembira. Kedua sahabat itu kembali seperti dulu, bercerita, bercanda dan tertawa bersama. Di antara percakapan mereka terus muncul ide - ide baru. Tanpa sadar, di langit jutaan bintang bertaburan. Di antara jutaan bintang itu, ada seberkas sinar dari sebuah bintang jatuh. Vanya tidak melihat dan menyadari hal itu, karena ia sudah terlebih dahulu menemukan bintang jatuhnya.
*Selesai*