Aku
kembali memperhatikannya yang sedang mengelap peluh yang bercucuran
diwajahnya. Handuknya yang sudah basah akan peluh, ia letakkan dan ia
ganti dengan mengambil air mineral yang tak jauh dari tempat ia
meletakkan handuknya. Ia telan beberapa teguk air mineral itu. Namun tak
lama ia bangkit diikuti teman-temannya nenuju tengah lapangan. Tapi aku
tetap pada tempatku memperhatikannya tadi.
Kembali
kulihat bola basket ditangannya. Dengan gaya yang cool ia mendrible
bola itu kemudian melemparkannya ke ring. Lagi-lagi bola yang sempat
berputar-putar di bibir ring masuk dengan sempurna. Disusul teriakan
para penonton yang rela berpanasan di tepi lapangan. Salah satunya aku.
Namun hari itu aku memilih menonton di bawah pohon akasia yang tak jauh
dari lapangan, sehingga aku tidak begitu kepanasan. Aku adalah penonton
setia permainan basket Adrian bersama teman-temannya. Adrian yang tak
lain adalah sosok yang sedari tadi aku perhatikan. Termasuk saat ia
mengelap peluh pun aku memperhatikannya. Entah sejak kapan kebiasaanku
memperhatikan Adrian muncul. Akhir-akhir ini aku selalu semangat
menonton permainan basket Adrian.
Sebenarnya aku sudah hampir 4
tahun mengenal Adrian. Saat smp kami satu sekolah. Aku pertama kali
mengenalnya saat kami sama-sama kehujanan ketika pulang sekolah. Ketika
itu kami sedang menunggu bus di halte yang tak jauh dari sekolah. Itu
terjadi 3 tahun yang lalu. Saat itu, hujan sangat deras. Namun aku sudah
terlanjur tiba di halte, demikian juga Adrian. Kebetulan hanya kami
berdua yang ada di halte itu. Kami awalnya sedikit canggung. Namun
Adrian berusaha mencairkan suasana.
"Haiii.." sapanya berusaha memecah keheningan.
"Haii juga." jawabku datar dan terkesan cuek.
"Kamu anak SMP Pelita juga kan?" tanyanya basa basi. "Emmm.. Kenalin, aku Adrian." sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Ameel." jawabku dingin sambil menyambut uluran tangan Adrian. Saat
itu aku tidak terlalu menghiraukan Adrian. Aku memang tipikal orang
yang cuek pada orang yang belum aku kenal. Dan pertemanan kami pun hanya
sebatas saling mengenal.
Setelah 3 tahun di smp yang sama,
Tuhan ternyata belum mau memisahkan kami. Aku dan Adrian kini satu sma,
di SMA Nusa. Bahkan kami satu kelas, kelas X-8. Pertemanan kami pun jadi
lebih akrab. Kami jadi sering jalan bareng dan belajar bareng. Dan
sepertinya ada yang berubah dari kami, tepatnya dari diriku, dan
tepatnya lagi perasaanku. Aku sendiri tak tau sejak kapan rasa ini
muncul. Dan aku tak tau mengapa rasa ini bisa muncul.
"Haii
Ameel.." sebuah suara yang begitu aku kenal menyapaku dengan nada agak
tinggi. Aku yang tadinya melamun terkejut saat menoleh.
"Adrian?" sejenak aku memperhatikannya "Ka.. Kamuu.. Kok disini?"
"Emang kenapa? Nggak boleh?"
"Yaa.. Ya bukannya nggak boleh. Tapikan kamu lagi tanding."
"Itukan tadi. Kamu sih ngelamun. Liat tu, udah pada bubar kan? Eh kamu masih disini sendiri."
Aku celingak-celinguk memandangi sekelilingku. Benar saja, semua sudah pergi. Tinggal aku dan Adrian.
"Ya ampuuun.. Tee.. terus Thea mana?"
"Kamu tadi ngelamun terus Thea udah coba nyadarin kamu. Tapi kamu tetep
aja ngelamun. Ya udah terus aku suruh pergi deh dia." Adrian tersenyum
padaku, kemudian melanjutkan kalimatnya. "Tapi aku heran, tadi Thea
teriak-teriak nyadarin kamu tapi nggak bisa-bisa. Eeh tapi begitu denger
suaraku kamu langsung sadar.. Hayyooo jangan-jangan kamuuu....."
"Jangan-jangan apa? Nggak usah aneh-aneh deh."
"Jangan-jangan kamu suka ya sama aku? Hayoo ngaku Meel..."
"Iiih apaan sih. Enggaklah, GR deh.."
"Kalo enggak kenapa mukanya harus merah?" Adrian menggodaku.
Mati aku! Kenapa harus keliatan malu sih.. Aaaarrrgggghhhh!!! gerutuku dalam hati.
Wajah Adrian berubah, menampakkan keseriusan. "Meel.."
"Apa?"
"Ini buat kamu." Adrian memberikan sebuah novel padaku. "Baca judulnya aja ya."
Aku menerima novel itu, dan kubaca judulnya.
Will you be mine? What? Apa maksudnya? Adrian nembak gue? Aduh gimana
nih.. aku pun berpura-pura bingung tidak mengerti maksud Adrian dan
menganggapnya sebagai lelucon.
"Novel ini kamu yang nulis? Hahaha.. Kamu bercanda kan?"
"Aku serius. Will you.... "
"Ssttt.." aku meletakkan telunjukku di bibir Adrian. Kemudian ku ambil
sebuah novel dari tasku. Aku sering membawa novel jika aku pergi,
termasuk saat sekolah.
"Baca judulnya ya. Itu jawaban dari pertanyaan kamu."
"I am yours." Adrian tersenyum lebar. "Really?"
Aku hanya mengangguk kemudian tersenyum padanya.