Home
Archive for
Maret 2015
Ketika sebuah pilihan harus kuambil. Aku
pun mengambil satu dari beberapa pilihan itu. Kini aku menjadi yang tak
terlihat. Itu akibat dari pilihanku. Tak pernah kusesali pilihanku itu. Meski
karena pilihan itu aku menjadi tak dipandang. Bahkan menyempatkan untuk sekedar
melirikku barang sekejap saja orang-orang pun enggan. Terkadang, sakit rasanya.
Pilihanku tidak hanya tak telihat, tapi juga tak dianggap.
Ya, begitulah resiko dari pilihanku. Tapi
aku tak pernah menyesalinya.karena sebuah pilihan itu bukan untuk disesali
dikemudian hari. Tapi untuk dijalani dengan sebaik mungkin. Dan kini aku akan
menjalani pilihan itu sebaik-baiknya. Bahkan aku bertekad, ingin menjadikan
pilihanku itu menjadi telihat dan dianggap.
Aku menemukan
foto itu saat menscroll down beranda igku.
Ku perhatikan
wajah bahagia mereka. Tampak sangat bahagia layaknya hidup mereka tanpa masalah
sedikit pun. Tersenyum lepas seakan saat itu adalah saat yang paling
membahagiakan. Didukung dengan background natural dari foto itu, persahabatan
mereka tampak lebih perfect.
Tiga sejoli itu
telah bersahabat sejak lama. Awalnya, aku memang bagian dari mereka. Namun
kemudian aku tidak lagi menjadi bagian dari mereka. Entah apa sebabnya, aku
lupa. Untuk beberapa lama aku bukan siapa-siapa mereka.
Tapi setahun
yang lalu aku kembali menjadi bagian dari mereka. Aku cukup nyaman dengan
kebersamaanku dengan mereka. Aku pun lupa bahwa dulu aku bukan siapa-siapa
mereka. Bahkan aku merasa memang sudah dari dulu kita seperti ini. Aku tak
pernah sadar bahwa aku ini tak lain adalah orang baru di persahabatan mereka.
Sebenarnya, saat aku datang lagi ke dalam bagian dari mereka, aku tidak datang
sendiri. Aku bersama seorang yang lain. Orang itu pun merasakan hal yang sama
denganku. Tapi perbedaan antara aku dengan orang itu baru sekarang aku rasakan.
Baru sekarang, setelah kita tidak bersama lagi. Bedanya aku dengan orang itu
ialah sekarang keberadaanku di tengah mereka seperti tak diinginkan lagi oleh
mereka. Berbeda dengan orang itu, yang masih sangat diharapkan keberadaannya di
tengah mereka.
Meski orang itu tak ada di foto itu, tapi aku
tau bahwa orang itu juga ada di tempat itu. Sangat menyakitkan. Dimana kebaikan
mereka saat kita masih bersama selalu aku ingat hingga aku sangat menyayangi
mereka. Aku bahkan menganggap mereka seperti keluargaku sendiri. Tapi kini,
setelah jarak berada di antara kita, aku tak lagi diharapkan. Mungkin inilah
resiko menjadi orang baru. Sulit untuk menjadi yang penting. Tapi, mengapa
resiko itu hanya aku yang mendapatkannya? Mengapa orang itu tidak? Aku butuh
jawaban dari kalian, wahai tiga sejoli.
Langganan:
Komentar
(
Atom
)

