Ketika semua bertahan dengan ego masing-masing, maka tak akan ada penyelesaian di antara masalah mereka. Satu-satunya hanya dengan membunuh ego salah satu. Lalu siapa yang akan membunuh egonya? Dulu aku sudah pernah. Kemarin aku melakukannya lagi. Sekarang, haruskah aku, lagi? Mengapa bukan engkau saja? Kenapa harus terus-terusan aku? Apa kau tak mengerti? Nanti egoku habis karena ku bunuh satu-satu. Dan egomu? Akankah selalu menang? Akankah selalu beranak pinak melahirkan ego yang lain? Sudahlah, terlalu banyak pertanyaanku. Simpan saja tanda tanya itu. Tidak akan terjawab. Tidak penting.
Home
Archive for
Februari 2016
Nggak seharusnya dulu aku menghilang gitu aja dari kamu. Seharusnya dulu aku lebih sabar untuk menunggu saat indah itu. Daripada menghilang dan akhirnya nggak pernah ketemu sama kamu lagi dan saat indah yang ku nantikan itu. Keputusan yang ku ambil emang salah besar. Tapi sebesar apa sih sampai-sampai kamu nggak maafin aku, sedikit pun.
Sekarang, saat aku udah kembali kamu malah sembunyi dari aku. Nggak mau ketemu aku lagi. Kamu malah nyiksa aku. Nyakitin aku kayak gini. Kamu malah biarin aku nyari-nyari kamu kayak orang bodoh. Kamu mau balas dendam sama aku? Tapi apa harus balas dendammu dengan cara yang menyakitkan kayak gini? Kamu udah beda banget dari yang dulu. Dulu kamu selalu nguatin aku. Sekarang? Kamu malah ngerapuhin aku. Serapuh-rapuhnya.
Memang benar, sesuatu yang telah hancur itu bagaimana pun usaha kita untuk menyatukannya ia tak akan kembali utuh seperti semula. Begitu pula hatimu yang telah ku hancurkan dulu. Meski aku berusaha merapikannya lagi tapi tetap saja ia tak akan pernah serapi dulu sebelum ku hancurkan dengan kepergianku. Tetap ada celah-celah kecil yang berantakan yang tak akan pernah bisa ku sentuh lagi untuk ku rapikan.
Sekarang, saat aku udah kembali kamu malah sembunyi dari aku. Nggak mau ketemu aku lagi. Kamu malah nyiksa aku. Nyakitin aku kayak gini. Kamu malah biarin aku nyari-nyari kamu kayak orang bodoh. Kamu mau balas dendam sama aku? Tapi apa harus balas dendammu dengan cara yang menyakitkan kayak gini? Kamu udah beda banget dari yang dulu. Dulu kamu selalu nguatin aku. Sekarang? Kamu malah ngerapuhin aku. Serapuh-rapuhnya.
Memang benar, sesuatu yang telah hancur itu bagaimana pun usaha kita untuk menyatukannya ia tak akan kembali utuh seperti semula. Begitu pula hatimu yang telah ku hancurkan dulu. Meski aku berusaha merapikannya lagi tapi tetap saja ia tak akan pernah serapi dulu sebelum ku hancurkan dengan kepergianku. Tetap ada celah-celah kecil yang berantakan yang tak akan pernah bisa ku sentuh lagi untuk ku rapikan.
Langganan:
Komentar
(
Atom
)