Introvert Bercerita

  • Beranda
Home Archive for Januari 2014

Mungkin karyaku ini tidak sempurna dan masih banyak kekurangan. Tapi aku berharap karyaku ini tidak jelek. Selamat membaca!
 ...............................................................................................................................................................

Under The Rain

               Niki duduk di bangku favoritnya di kelas, bangku deretan nomor dua dari kiri dan depan. Jam tangannya menunjukkan pukul 6.25. Kelas Niki masih sangat sepi. Baru dua anak yang datang, Niki dan seorang cowok culun yang duduk di bangku depan guru. Dengan suasana yang sunyi ia tenggelam di balik novel dan tak peduli dengan suasana sekitarnya. Halaman demi halaman novel Remember When karya Winna Efendi ia balik. Niki yang asyik dengan novelnya tak menyadari suasana yang awalnya sunyi kini telah berubah menjadi sangat gaduh. Annalise, sahabatnya juga telah datang. Annalise tidak menyapa Niki, karena ia tau bila sudah asyik membaca Niki tidak akan peduli dengan siapapun.
"Kamu tu kayak punya dunia sendiri deh. Jangan-jangan suatu saat kamu bakalan di duniamu itu selamanya dan nggak akan pulang ke dunia nyata lagi.. Hiii.. Ngeri.." ucap Anna––panggilan akrab Annalise, suatu hari.
"Iya mungkin." jawab Niki cuek.
"Huuuhhhh.. Dasar anak novel." Anna hanya mendegus kesal. Namun Niki sama sekali tidak menghiraukannya.
                  Bel kurang 10 menit. Anna menggeserkan badannya ke samping sehingga menghadap Niki. Ia mencoba mengajak bicara Niki. Meski ia tau kemungkinan Niki menggubrisnya hanya kecil.
"Nik, kabarnya hari ini ada anak baru lho di sekolah kita." ujar Anna. Sepertinya, hari ini ia beruntung. Tak lama setelah ia berkata, Niki menurunkan novelnya dan menatap Anna sambil berkata
"Oya?" Niki menjawab dengan antusias.
"Iya, denger-denger sih cowok."
"Waaah.. Asyik dong."
"Eh kayaknya anak barunya udah dateng deh. Liat aja, cewek-cewek pada berhamburan keluar."
Niki melihat ke sekelilingnya. Benar, di kelas hanya Niki dan Anna yang tersisa. Semua teman Niki, terutama teman perempuannya sudah berjajar di pinggir lapangan menyambut murid baru itu.
"Gantengnyaaa..."
"Kereeen.."
"Gila! Cakep banget!" dan masih banyak kata-kata yang diteriakkan murid perempuan SMU Harapan ketika murid baru itu melintas. Sedangkan murid laki-laki hanya melihat tanpa berkomentar. Di dalam kelas, Niki yang mendengar teriakan itu jadi penasaran.
"Na, liat yuk. Aku penasaran nih." ajak Niki antusias. Anna hanya menurut dan berjalan keluar mengikuti Niki.
                    Entah mengapa Niki begitu antusias. Perasaannya memaksanya untuk melihat murid baru itu.
Ia terkejut saat melihat pemandangan di luar kelasnya. Murid-murid––terutama murid perempuan, berjajar di pinggir lapangan menyaksikan murid baru itu berjalan dengan gaya yang cool. Ia bagaikan selebriti dunia yang berjalan diantara kerumunan penggemarnya. Niki berusaha menyelinap di antara kerumunan teman-teman perempuannya itu. Dengan susah payah Niki berhasil menyelinap di tengah-tengah mereka. Dari situ Niki bisa melihat murid baru itu dengan jelas. Melihat kulitnya yang putih, matanya yang bulat, hidungnya yang mancung, dan..... senyum tipisnya yang manis. Ketika murid baru itu menatap sekelilingnya, tak sengaja ia bertemu pandang dengan Niki. Niki tertegun sesaat. Ia merasa tidak asing dengan wajah murid baru itu. Sosok itu mirip dengan seseorang dari masa lalunya yang sangat dekat dengannya.
Nata? Benarkah itu dia? tanya Niki dalam hati. Murid baru itu mirip Nata. Sahabatnya sejak kecil.
                 Sejak kecil Niki dan Nata selalu bersama. Hingga suatu hari tepatnya saat hari kelulusan SMP, Nata berkata pada Niki
"Nik, kamu pernah bayangin nggak kalau suatu saat kita berpisah?" Nata bertanya dengan suara lirih.
"Berpisah? Bukankah kita udah janji akan selamanya bersama?"
Nata menarik nafas sejenak, kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Iya, tapi sepertinya aku akan mengingkari janji kita." Niki tidak mengerti maksud Nata. Nata melanjutkan kalimatnya.
"Maaf Nik, setelah kelulusan ini aku akan pindah ke Paris. Karena papaku ada tugas di sana."
Niki sangat terkejut mendengar kalimat Nata
"Tapi apa kamu selamanya di sana dan tidak akan kembali lagi?"
"Entah Nik, aku nggak tau." Niki hanya tertunduk lesu. Ia harus merelakan orang yang disayanginya pergi. Setitik air mata jatuh di pipinya. Namun ia segera mengusapnya karena ia tak mau Nata tau bahwa ia menangis.
Nata, kenapa kamu pergi saat aku mulai mencintaimu ? Niki berkata dalam hati.
Perasaannya dengan Nata yang awalnya hanya perasaan sebagai sahabat kini mulai berubah. Niki mulai mempunyai perasaan lain kepada Nata. Tapi Nata tidak pernah mengetahuinya.
                    Niki segera mengalihkan pandangannya setelah beberapa detik bertemu pandang dengan murid baru itu.
"Na, kita masuk aja yuk. Aku malas di sini." ajak Niki. Ia tak mau belama-lama berada di sini karena ia tak mau teringat lagi dengan Nata. Dan ia berharap murid baru itu tidak satu kelas dengannya.
                                                                ***
                 Niki menjatuhkan tubuhnya yang mungil ke kasur. Ia tampak lelah. Kejadian hari ini masih membekas di pikirannya. Kehadiran Nata yang tiba-tiba, Nata satu kelas dengannya, dan kejadian lain yang berhubungan dengan Nata hari ini.
Nata, kenapa kamu kembali? Itulah pertanyaan yang sedari tadi mengusik hatinya. Sekarang ia justru tidak menginginkan kehadiran Nata kembali. Meskipun perasaannya kepada Nata yang lebih dari sekedar sahabat masih ada, tapi ia sungguh membenci kehadiran Nata. Apalagi ternyata Nata satu kelas dengannya. Di tengah suasana kamarnya yang sepi, terdengar getaran HP Niki. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak di kenal masuk.
“Hallo.. Niki?” suara seseorang dari seberang setelah Niki mengangkat telepon itu.
“Iya. Ini siapa ya?” jawab Niki penasaran
“Ini aku, Nata.”
Niki terkejut saat mendengar nama itu.
“Oh.. Nata anak baru itu ya?”
“Nik.. Apa kamu nggak ngenalin aku sehingga kamu menganggapku teman barumu ?”
Niki terdiam sesaat. Ia tak tau harus berkata apa.
“Emm.. Maaf Nat, aku lagi belajar nih. Ngobrolnya besok lagi ya. See you.” Niki sengaja berbohong dan segera menutup teleponnya. Ia belum siap bicara dengan Nata. Namun beberapa saat kemudian sebuah SMS masuk dari nomor yang meneleponnya tadi, atau tepatnya nomor Nata.


         Niki, aku tau kamu marah sama aku.
        Tapi aku mohon maafin aku.
        Aku ingin kita sama-sama lagi seperti dulu.

Niki tidak membalasnya. Ia justru mematikan HPnya dan beranjak tidur
Nata, maaf. Aku belum siap bicara denganmu. Ucap Niki dalam hati.


                                                              ***
                  Sejak malam itu Nata tak henti-hentinya mengajak Niki bicara. Namun Niki selalu menghindar. Sebenarnya Niki tak mau seperti ini. Tapi hatinya benar-benar belum siap bila harus bicara dengan Nata. Meski demikian Nata tak pernah menyerah.
               Hingga suatu hari, saat pulang sekolah Nata menarik paksa tangan Niki dan membawanya ke sebuah taman dekat rumah Niki.
" Nik maaf aku terpaksa ngelakuin ini. Tolong kasih aku waktu sebentar aja buat bicara sama kamu. " pinta Nata. Kali ini Niki hanya diam. Mungkin ia lelah menghindar terus dari Nata.
"Nik, maafin aku selama ini udah ninggalin kamu. Mungkin kamu marah sama
aku. Tapi aku mohon maafin aku. Aku pengen kita sama-sama lagi kayak
dulu. Kita mulai persahabatan kita lagi."
"Sahabat?"
"Iya, kamu masih menganggap aku sahabat kan? Meski sebenarnya Nik, aku
sayang sama kamu lebih dari sahabat. Tapi aku tau kamu cuma nganggep aku
sahabat dan nggak akan menerima perasaanku ini. Tapi nggak papa,
bagiku, kamu masih nganggap aku sahabat aja aku udah seneng kok."
"Aku nggak salah denger? Kamu sayang sama aku?" sejenak tercipta
keheningan. Niki menarik napas, kemudian menghembuskannya perlahan.
"Nat, maafin aku juga karna sikapku selama ini cuek sama kamu.Bukannya aku marah sama kamu. Tapi aku cuma belum siap aja ketemu lagi sama kamu. Jujur, aku juga sayang sama kamu. Perasaan ini udah ada dari dulu, sebelum kepergianmu dan perasaan itu nggak berubah sampai detik ini.
"Jadi... Kamu mau terima perasaanku?"
Niki hanya mengangguk pelan. Kemudian menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyum yang manis. Nata merangkulnya, dan berbisik
“Je t’aime Nik.”
Niki hanya tersenyum malu. Kini mereka memulai kisah baru. Disaksikan hujan yang perlahan mulai turun.


 Kita Sayang Bumi, Bumi Sayang Kita


                 Keluarga planetarium memiliki 9 anak. Mereka ialah Bumi, Mars, Venus, Uranus, Yupiter, Neptunus, Saturnus, Merkurius dan si kecil Pluto. Mereka sangat rukun. Suatu siang, Bumi menyendiri dan tidak ikut bermain bersama kedelapan saudaranya. Pluto yang melihat itu pun langsung menghampiri Bumi.
"Kak Bumi mengapa sendirian di sini dan tidak ikut bermain bersama kami?" tanya Pluto membuyarkan lamunan Bumi.
"Emm.. Eh kamu Pluto. Kakak tidak apa-apa kok." jawab Bumi
"Tapi kakak terlihat sedih." Pluto tak percaya dengan jawaban Bumi
"Percayalah, kakak tidak apa-apa."
"Baiklah kalau memang begitu."
               Beberapa hari kemudian...
Lagi-lagi Bumi tampak murung dan tidak ikut bermain bersama kedelapan saudaranya. Begitulah Bumi akhir-akhir ini. Hal itu membuat saudara-saudaranya curiga.
"Kenapa ya, akhir-akhir ini Bumi kok sering menyendiri?" tanya Venus kepada saudara-saudaranya.
"Iya, aku juga heran. Aku sudah mencoba bertanya pada Kak Bumi. Tapi dia tidak mau cerita." ujar Pluto
"Menurutku, Bumi sedih karena manusia-manusia yang tinggal di dalamnya sudah berbuat sewenang-wenang. Lihatlah, mereka sering menebangi pohon, membuang sampah sembarangan dan melakukan hal-hal yang bisa merusak Bumi. Aku kasihan melihat Bumi." Neptunus mencoba berpendapat.
"Dasar manusia-manusia jahat!" ucap Pluto dengan marah. Tiba-tiba datanglah Bumi menghampiri mereka. Sepertinya Bumi tau bahwa kedelapan saudaranya sedang membicarakan dirinya.
"Benar Bumi, memang kami sedang membicarakanmu. Kami heran mengapa akhir-akhir ini kamu tampak murung. Bumi, kami kan saudaramu, jadi jangan sungkan untuk menceritakan masalahmu kepada kami." ucap Venus. Bumi pun terdiam sejenak. Suasana pun menjadi hening. Dengan sedih, Bumi pun menceritakan kemurungannya. Ternyata pendapat Neptunus benar. Bumi sedi karena manusia yang tinggal di dalamnya berbuat sewenang-wenang terhadapnya. Saudara-saudara Bumi pun menjadi geram. Mereka ingin membuat manusia-manusia itu jera. Namun tak tau harus berbuat apa agar manusia jera.

                                                                        ...

               Suatu hari hujan lebat mengguyur isi Bumi. Hujan ini disertai angin kencang. Akibatnya banyak terjadi banjir, pohon tumbang, tanah longsor dan banyak bencana lainnya. Manusia pun terkena imbasnya. Mereka sibuk menyelamatkan diri mereka masing-masing.
"Lihatlah manusia-manusia di dalam Bumi." ucap Yupiter
"Kasihan mereka. Sepertinya mereka sudah mendapat hukuman dari perbuatan mereka selama ini. Kira-kira apa ya yang akan mereka lakukan?" tanya Merkurius
"Entahlah. Kita lihat saja nanti."
               Beberapa hari kemudian...
Manusia-manusia di Bumi tampak sedih karena bencana beberapa hari yang lalu. Mereka pun sadar bahwa mereka sudah merusak Bumi. Setelah bencara itu, manusia pun berubah. Mereka lebih sayang kepada Bumi dan tidak pernah lai menebang pohon sebarangan, membuang sampah sembarangan, dan berbuat hal-hal yang merusak Bumi. Sejak itu, Bumi menjadi lebih asri, sejuk dan nyaman.
Keluarga planetarium pun ikut bahagia.
"Selamat ya Bumi. Sekarang manusia sangat menyayangimu." ucap saudara-saudara Bumi.
"Iya, terimakasih saudara-saudaraku."
Langganan: Komentar ( Atom )

ABOUT AUTHOR

LATEST POSTS

  • Tujuh Makhluk Penghuni 312
    Haii guys!!! Haaaahhhh… Nggak kerasa satu semester udah aku lewati di Teladan, sekolah baruku tercintaaahh :* Bahkan kini aku sudah be...
  • 7 Januari 2015
    7 Januari 2015 Aku di sini termenung. Merenungin suatu kecepatan sebuah kehidupan. Ya, cepat. Sebuah kata yang kuanggap paling tepat unt...
  • GLEN FREDLY - JANUARI
    Berat bebanku Meninggalkanmu Separuh nafas jiwaku Sirna... Bukan salahmu Apa dayaku Mungkin benar cinta sejati Tak berpihak Pa...
  • Menengok Kembali
    "Aku capek. Kenapa tanggung jawab itu harus dibebankan kepadaku semua?" keluhnya sore itu padaku. "Bukankah masih ada orang...
  • Tak Lagi Sama
    "Kenapa mereka membiarkanku sendirian?" tanya gadis kecil itu. Di sudut taman ia duduk sambil memandangi segerombolan anak peremp...
  • Rindu.
    Teruntuk dua orang di tempat yang berbeda, kukirimkan kepingan-kepingan rindu ini untuk kalian. Semoga kalian juga merasakannya dan memilik...
  • Alasan yang Terlupa
    Langit menjingga pertanda senja Saat itu, Kita berada   di tempat yang sama Di sebuah tapak yang semakin meninggi Perantara un...
  • Membunuh Ego
    Ketika semua bertahan dengan ego masing-masing, maka tak akan ada penyelesaian di antara masalah mereka. Satu-satunya hanya dengan membunuh...
  • Aku Ingin Sebuah Jawaban
    Aku menemukan foto itu saat menscroll down beranda igku. Ku perhatikan wajah bahagia mereka. Tampak sangat bahagia layaknya hidup mereka...
  • Cerita Tentang Hati yang Berantakan
    Nggak seharusnya dulu aku menghilang gitu aja dari kamu. Seharusnya dulu aku lebih sabar untuk menunggu saat indah itu. Daripada menghilang...

Blogger templates

Categories

  • akuuuu
  • puisi

Instagram

aarestii.tumblr.com twitter.com/aarestii

Blog Archive

  • ►  2016 (8)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2015 (10)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ▼  2014 (18)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ▼  Januari (2)
      • Under The Rain #WFFB
      • Cerpen
  • ►  2013 (1)
    • ►  September (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Introvert Bercerita

Hello!

Unknown
Lihat profil lengkapku

Popular Posts

  • Tujuh Makhluk Penghuni 312
    Haii guys!!! Haaaahhhh… Nggak kerasa satu semester udah aku lewati di Teladan, sekolah baruku tercintaaahh :* Bahkan kini aku sudah be...
  • 7 Januari 2015
    7 Januari 2015 Aku di sini termenung. Merenungin suatu kecepatan sebuah kehidupan. Ya, cepat. Sebuah kata yang kuanggap paling tepat unt...
  • GLEN FREDLY - JANUARI
    Berat bebanku Meninggalkanmu Separuh nafas jiwaku Sirna... Bukan salahmu Apa dayaku Mungkin benar cinta sejati Tak berpihak Pa...
  • Menengok Kembali
    "Aku capek. Kenapa tanggung jawab itu harus dibebankan kepadaku semua?" keluhnya sore itu padaku. "Bukankah masih ada orang...
  • Tak Lagi Sama
    "Kenapa mereka membiarkanku sendirian?" tanya gadis kecil itu. Di sudut taman ia duduk sambil memandangi segerombolan anak peremp...
  • Rindu.
    Teruntuk dua orang di tempat yang berbeda, kukirimkan kepingan-kepingan rindu ini untuk kalian. Semoga kalian juga merasakannya dan memilik...
  • Alasan yang Terlupa
    Langit menjingga pertanda senja Saat itu, Kita berada   di tempat yang sama Di sebuah tapak yang semakin meninggi Perantara un...
  • Membunuh Ego
    Ketika semua bertahan dengan ego masing-masing, maka tak akan ada penyelesaian di antara masalah mereka. Satu-satunya hanya dengan membunuh...
  • Aku Ingin Sebuah Jawaban
    Aku menemukan foto itu saat menscroll down beranda igku. Ku perhatikan wajah bahagia mereka. Tampak sangat bahagia layaknya hidup mereka...
  • Cerita Tentang Hati yang Berantakan
    Nggak seharusnya dulu aku menghilang gitu aja dari kamu. Seharusnya dulu aku lebih sabar untuk menunggu saat indah itu. Daripada menghilang...

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

  • My Story
  • Gallery
  • Archive
  • Blog
  • About
  • Contact

Label Cloud

  • akuuuu
  • puisi
  • Beranda

Latest Posts

  • Tujuh Makhluk Penghuni 312
    Haii guys!!! Haaaahhhh… Nggak kerasa satu semester udah aku lewati di Teladan, sekolah baruku tercintaaahh :* Bahkan kini aku sudah be...
  • 7 Januari 2015
    7 Januari 2015 Aku di sini termenung. Merenungin suatu kecepatan sebuah kehidupan. Ya, cepat. Sebuah kata yang kuanggap paling tepat unt...
  • GLEN FREDLY - JANUARI
    Berat bebanku Meninggalkanmu Separuh nafas jiwaku Sirna... Bukan salahmu Apa dayaku Mungkin benar cinta sejati Tak berpihak Pa...
  • Menengok Kembali
    "Aku capek. Kenapa tanggung jawab itu harus dibebankan kepadaku semua?" keluhnya sore itu padaku. "Bukankah masih ada orang...
  • Tak Lagi Sama
    "Kenapa mereka membiarkanku sendirian?" tanya gadis kecil itu. Di sudut taman ia duduk sambil memandangi segerombolan anak peremp...
  • Rindu.
    Teruntuk dua orang di tempat yang berbeda, kukirimkan kepingan-kepingan rindu ini untuk kalian. Semoga kalian juga merasakannya dan memilik...
  • Alasan yang Terlupa
    Langit menjingga pertanda senja Saat itu, Kita berada   di tempat yang sama Di sebuah tapak yang semakin meninggi Perantara un...
  • Membunuh Ego
    Ketika semua bertahan dengan ego masing-masing, maka tak akan ada penyelesaian di antara masalah mereka. Satu-satunya hanya dengan membunuh...
  • Aku Ingin Sebuah Jawaban
    Aku menemukan foto itu saat menscroll down beranda igku. Ku perhatikan wajah bahagia mereka. Tampak sangat bahagia layaknya hidup mereka...
  • Cerita Tentang Hati yang Berantakan
    Nggak seharusnya dulu aku menghilang gitu aja dari kamu. Seharusnya dulu aku lebih sabar untuk menunggu saat indah itu. Daripada menghilang...

Blogroll

Flickr

About

Copyright 2014 Introvert Bercerita.
Designed by OddThemes